EUFORIA HARI PERTAMA





Lulus dari S1 tahun 1999 silam, ingin sekali untuk meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Namun kala itu, aku memliki adik yang sedang duduk di kelas 3 SMA dan akan melanjutkan kuliah. Di belakang adikku masih ada si bontot  yang akan tamat SMA di tahun berikutnya. Sebagai sulung, tentu tak mungkin rasanya untuk merengek pada orang tua untuk dibiayai sekolah lagi. Sementara aku kurang mendapatkan  informasi mengenai beasiswa.  Maka saat orang tua memintaku untuk pulang dari perantauan aku menurut saja. Tentu saja dengan harapan kelak mendapatkan pekerjaan dan kesempatan unuk melanjutkan studi.

Beberapa bulan setelah pulang dari rantau aku menikah dan kemudian tenggelam didalamnya, menikmati pernikahan, menjalani peran sebagai istri dan ibu dari tiga buah hati yang diamanahkan Allah pada kami.

Di sisi lain, aku memutuskan untuk mengabdi didunia pendidikan anak usia dini. Semula hanya tak sengaja, sekedar  punya kegiatan. Namun kemudian aku menikmatinya dan memutuskan itulah pilihan profesi yang tepat, bahkan sangat tepat. 

Boleh di bilang, ku selami dunia pendidikan anak usia dini secara otodidak. Keinginan unuk dapat mengajar dengan baik, membuat anak didik menjadi senang belajar membuatku terus mengupgrade diri. Kondisi sedang memiliki anak yang masih kecil pun menjadi kesempatan belajar yang sangat baik buat ku. Sehingga, ilmu yang ku peroleh dari membaca buku buku parenting dapat langsung ku aplikasikan juga pada saat proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. 

Namun begitu, mimpi untuk melanjutkan studi masih terpatri dengan baik di angan ku. Selalu ada kesedihan setiap melihat atau mendengar teman seangkatan yang sudah menyelesaikan S2. Seiring dengan itu, selalu ku tanam harapan suatu saat aku pun akan sampai dititik itu. 

2021, saat pandemi memasuki tahun ke dua,persis memasuki tahun ke lima hijrah ku ke Ibu Kota. 

    "sekarang kegiatannya apa Na ?" tanya ayah ku suatu hari saat kami berkomunikasi melalui video call.

    "Biasa, ke sekolah...tapi sering online" jawabku 

    "Kenapa gak sekolah aja lagi, mumpung sudah tidak repot lagi ngurusi anak- anak" ucap ayah ku sambil tersenyum

Sontak, aku tersentak. Kalimat yang terdengar biasa saja namun mampu memacu adrenalin semangatku. Keinginan untuk sekolah lagi mencuat, semangatku membumbung.

Beberapa hari aku bergerilya mencari Universitas yang  tepat. Aku ingin mengambil jurusan PAUD agar linier dengan pengalamanku mengajar selama ini. dan menjadi lebih profesional nantinya.

PTIQ pun akhirnya menjadi pilihan. Ada Magister Pendidikan Islam dengan Peminatan PIAUDI (Pendidikan Islam Anak Usia Dini) di sana. 

2 Oktober 2021, hari pertama memulai perkuliahan. Penuh suka cita ku siapkan diri. Seperti biasanya tentu saja hari pertama di awali dengan perkenalan. Satu persatu kami memperkenalkan diri, menyebutkan nama, tempat tinggal dan tentu saja profesi. Yang paling seru buatku  adalah saat menyebutkan tahun kelulusan dari S1. Sepertinya hampir semua mata terbelalak saat ku sebutlkan tahum 1999. Suda pasti,jadi ketahuan tahun lahirnya dong. Aku tertawa saja.  

Menjadi mahasiswa paling tua dikelas, mungkin akan menjadi bebam. Tak apa. Nikmati saja. Yang penting, jalur meraih cita-cita sudah ku dapatkan. Selanjtnya adalah berfokus pada tujuan. Bismillah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Luka

Puisi Ramadhan

Rasa